Puan Maharani: Kita Harus Perkuat Tradisi Jas Merah dan Jas Hijau

BERITA, HEADLINE, NASIONAL405 Dilihat

Jawa Timur, jejakkeadilan.com- Puluhan Gus atau kiai muda putera pengasuh pondok pesantren ternama yang tergabung dalam wadah Gawagis Jawa Timur bertemu dengan ketua DPR RI, Puan Maharani dalam rangka memberikan masukan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat kalangan santri di Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Surabaya pada Rabu (15/6/2022) malam itu bagi cucu Sang Proklamator Bung Karno, bukan saja bagian dari tugas negara melainkan juga amanah historis yang diwariskan leluhur untuk senantiasa mempererat hubungan antara kaum nasionalis (Jas Merah) dengan kaum santri (Jas Hijau).

Ketua Gawagis Jatim KH Maksum Faqih dari Ponpes Langitan Tuban dalam sambutannya mengatakan, bahwa Bung Karno sejak muda hingga menjadi bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia senantiasa berhubungan baik dengan ulama dan para kiai pengasuh pondok pesantren.

Bahkan saat menjalani pengasingan di Bengkulu, kata Gus Maksum, Bung Karno masih tetap aktif berkirim surat dengan kakeknya (KH Abdul Hadi) untuk meminta dukungan dan doa dari kiai-kiai pesantren agar perjuangan merebut kemerdekaan bisa berjalan dengan baik dan segera terwujud.

Gus Maksum juga pernah mendapat cerita langsung dari pamannya, bahwa pada Muktamar NU tahun 1940 an di Surabaya nama Bung Karno dan Bung Hatta juga ramai dibicarakan oleh para kiai terkait sosok yang paling layak menjadi pemimpin Indonesia, jika bangsa ini berhasil lepas dari penjajahan dan meraih kemerdekaan.

“Ada 11 kiai khos yang bermusyawarah, hasilnya 10 orang kiai memilih Bung Karno dan sisanya memilih Bung Hatta. Lima tahun kemudian (17 Agustus 1945) terbukti Bung Karno-lah yang menjadi presiden pertama Indonesia,” tegas Gus Maksum.

Terlepas dari itu, kita yang notabene generasi ketiga atau para cucu sebenarnya masih ada hubungan dan sudah selayaknya melestarikan tradisi yang telah dibangun dan diwariskan oleh para leluhur, dimana Jas Merah (kaum Nasionalis) dan Jas Hijau (kaum Religius) selalu bergandeng tangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Dalam mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan, harusnya kaum relegius yang akarnya pesantren dan santri maupun kaum nasionalis harus tetap bergandengan tangan, berkomunikasi dan berdiskusi untuk saling mensupport perjuangan yang mereka lakukan melalui jalur masing-masing dan saling mendoakan,” harap Gus Maksum.

Gus Maksum tidak ingin hati kaum santri dan kaum nasionalis sampai pernah lepas dan bercerai berai. Dua kekuatan harus selalu dipertahankan.

“InsyaAllah tidak akan ada yang bisa menggoyahkan apa yang menjadi cita-cita bapak Proklamator kita, Indonesia berdaulat, berjaya dan menjadi tolak ukur di kancah internasional,” imbuhnya.

NU yang menjadi representasi kaum religius dan PDI Perjuangan representasi kaum nasional, lanjut Gus Maksum harus selalu bergandengan seperti adik dan kakak. Maka, hal itulah yang dicontohkan oleh para leluhur, mulai Bung Karno dengan para kiai pondok pesantren, lalu berlanjut saat NU menjadi parpol hingga keluar dari Masyumi juga mendapat dukungan Bung Karno.

Hubungan baik itu kemudian dilanjutkan di era Reformasi oleh Gus Dur dan Ibu Megawati Soekarno Puteri. Bahkan Megawati juga selalu menggandeng tokoh NU (KH Hasyim Muzadi) saat maju di Pilpres walaupun gagal.

Hal itu tetap berlanjut hingga sekarang dimana Pak Jokowi yang notabene kader PDI Perjuangan saat maju Pilpres dan menjadi Presiden juga menggandeng tokoh NU yaitu Pak Yusuf Kalla (periiode pertama) dan KH Makruf Amin (periode kedua). Inilah catatan sejarah yang menjadi Jas Merah.

Selain Gus Maksum Faqih, sejumlah gus yang lain juga ikut memberikan masukan, bahwa pondok pesantren membutuhkan uluran tangan PDI Perjuangan yang saat ini tengah menguasai pemerintahan supaya memperhatikan pondok pesantren agar roh dari kaum santri ini bisa tetap lestari dalam mengawal dan mengisi Kemerdekaan.

“Religius Nasionalis itu satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Sebab religius tanpa adanya nasionalisme bisa menjadi gerakan-gerakan transnasional berbungkus agama yang kini mulai berkembang dan mengancam keutuhan NKRI,” kata Gus Hasbullah dari Ponpes Tegalrejo Ponorogo.

Begitu juga sebaliknya, lanjut Hasbullah nasionalis tanpa relegiusitas akan menjadi sekuler, sehingga bisa merubah pondasi bangsa yang telah dibuat oleh para pendiri bangsa.

“Yang bisa menjaga keutuhan NKRI itu hanyalah bersatunya kaum nasionalis dan kaum relegius. Karena keduanya harus saling membantu dan bergotong royong dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan,” harapnya.

Di sisi lain munculnya UU Pesantren, kemudian Perda Jatim tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren merupakan angin segar bagi kalangan pesantren. Namun mereka berharap Perda Pesantren bisa dibuat hingga tingkat Kabupaten/Kota agar perhatian pemerintah daerah kepada pesantren semakin nyata.

“Kami minta Ning Puan yang menjadi salah satu ketua DPP PDI Perjuangan ikut mengintruksikan kader PDI Perjuangan yang ada di daerah bisa mendorong dan menginisiasi lahirnya Perda Pesantren di kabupaten/kota di Jawa Timur,” pinta Gus Thoif.

Sinergitas antara kaum santri dan kaum nasionalis juga harus lebih implementatif. Oleh karena itu legislatif asal PDI Perjuangan yang ada di daerah juga harus lebih nyata keberpihakannya terhadap pesantren.

“PBNU sudah menegaskan bahwa NU bukan hanya milik satu partai saja tapi bisa mewarnai partai apa saja. Jadi PDI Perjuangan juga bisa menyapa kalangan pondok pesantren melalui kader-kadernya yang duduk di DPR maupun DPRD,” harap Gus Zahrul Jihad dari Ponpes Darul Ulum Jombang.

Menanggapi aspirasi yang tersebut, Ning Puan Maharani mengaku senang karena bisa menjahit kembali tradisi silaturrahim yang dilakukan kakeknya bisa dilanjutkan generasi ketiga atau cucu.

“Saya setuju jangan dipanggil ibu tapi Ning saja biar tidak kelihatan sudah sepuh banget. Silaturrahim ini sangat baik sekali kalau dilakukan secara berkala bukan hanya sekali biar tidak ada dusta diantara kita karena muncul kesan kok lagi butuh baru datang,” kata Ning Puan.

Menurut Ning Puan sejarah yang merekatkan antara Jas Merah dan Jas Hijau itu jangan sampai terusik sehingga tak bisa seiring sejalan dalam hubungan satu keluarga besar Indonesia dalam membangun bangsa dan negara.

“Indonesia Semangka Hijau- Merah itu harus terus dijaga. Saya meyakini sebagai mayoritas muslim di Indonesia ini harus bisa menjaga saudara-saudara kita yang lain bukan beragama Islam karena mereka juga ingin menjaga Indonesia seperti yang dicita-citakan the founding father yaitu Indonesia yang beragam, berbhineka tunggal ika berdasarkan Pancasila,” tegas Ketua DPR RI.

Oleh karena itu sikap PDI Perjuangan juga sangat jelas tidak ingin menciderai cita-cita the founding father sehingga menolak wacana penundaan pemilu walaupun secara politik jelas lebih menguntungkan bagi PDI Perjuangan.

“Kita tahu bahwa untuk membangun bangsa ini tak bisa hanya dilakukan oleh Jas Merah atau Jas Hijau sendirian tapi harus bersatu dan bergotong royong. Ini juga menjadi tanggungjawab kita sebagai generasi penerus,” pintanya.

Dia juga mengapresisi masyarakat Jatim yang dimotori kalangan santri karena bisa menjaga pluralisme dan bersikap moderat sehingga bisa menjadi tauladan warga bangsa lain untuk senantiasa menjaga keutuhan NKRI.

“InsyaAllah saya dan PDI Perjuangan akan mendorong pemerintah supaya komitmen membantu pesantren dan gus-gus lebih dari sebelumnya. Namun kendalanya itu hanya soal teknis yakni menyangkut sistem akuntabilitas. Saya meyakini ini bukan pertemuan pertama dan terakhir tapi akan berkesinambungan,” pungkas Ning Puan.

Dalam pertemuan tersebut turut pula hadir, Ahmad Basarah wakil ketua MPR, Said Abdullah ketua Banggar DPR, Puti Guntur Soekarno dan Indah Kurnia anggota DPR asal Fraksi PDI Perjuangan. Kusnadi ketua DPRD Jatim dan Sri Untari Bisowarno ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *